JAWAB TANTANGAN EKONOMI HIJAU, IAI JATIM GELAR PELATIHAN INTENSIF AUDIT ESG

Kategori Berita : Seputar IAI Jatim tayang pada Mar 06, 2026

SURABAYA – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Timur sukses menyelenggarakan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) bertajuk “ESG Audit Essentials: Dari Konsep hingga Praktik Dasar Audit Keberlanjutan”. Kegiatan yang berlangsung secara daring selama dua hari, Kamis dan Jumat (5–6 Maret 2026), ini bertujuan untuk membekali para akuntan dengan kompetensi baru di bidang audit aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua IAI Wilayah Jawa Timur, Prof. Basuki, M.Com (Hons)., Ph.D., Ak., CA., CMA., ASEAN CPA. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa pelaporan ESG bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar bagi perusahaan untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan kepercayaan investor. Oleh karena itu, auditor harus memiliki pemahaman mendalam untuk memastikan data keberlanjutan yang disajikan perusahaan bersifat akurat dan dapat dipercaya.

IAI Jawa Timur menghadirkan narasumber otoritatif, Efraim Sitinjak, ST., MT., CSRS., GRCP., yang merupakan Associate Director Deloitte Indonesia sekaligus pakar dalam isu strategi karbon dan dekarbonisasi. Pada sesi awal, narasumber menjelaskan perbedaan fundamental antara audit laporan keuangan konvensional dengan audit ESG, di mana audit ESG lebih menitikberatkan pada metrik non-finansial yang memiliki dampak jangka panjang terhadap nilai perusahaan.

Materi hari pertama berfokus pada pengenalan kerangka kerja pelaporan global seperti ISSB S1 dan S2 serta standar GRI. Efraim memaparkan bagaimana auditor harus mampu memetakan isu-isu material yang relevan dengan sektor industri perusahaan. Pemilihan indikator yang tepat menjadi kunci agar proses asurans atau audit dapat memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan dalam menilai risiko iklim dan dampak sosial perusahaan.

Memasuki aspek teknis, peserta diajak mendalami teknik pengujian data lingkungan, termasuk perhitungan emisi gas rumah kaca dan efisiensi energi. Narasumber menekankan pentingnya mendeteksi outlier atau anomali data, seperti penurunan emisi yang drastis namun tidak sejalan dengan aktivitas produksi. Teknik ini krusial untuk mencegah praktik greenwashing atau manipulasi informasi keberlanjutan yang dapat menyesatkan pengguna laporan.

Selain aspek lingkungan, pelatihan ini juga membedah audit pada pilar sosial dan tata kelola. Pembahasan mencakup pengujian kebijakan etika, whistleblowing system, hingga kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja melalui metrik Lost Time Injury Rate (LTIR). Auditor internal didorong untuk mengevaluasi efektivitas pengawasan dewan direksi terhadap komitmen ESG perusahaan guna memastikan kebijakan tersebut berjalan di seluruh level organisasi.

Pada hari kedua, fokus kegiatan beralih pada standar asurans internasional, khususnya ISAE 3000 (Revised). Efraim menjelaskan bagaimana menentukan kriteria audit yang sesuai (suitable criteria) agar simpulan audit memiliki dasar hukum dan profesional yang kuat. Peserta juga diberikan simulasi mengenai tahapan engagement audit ESG, mulai dari perencanaan hingga penentuan tingkat keyakinan (assurance level) yang diberikan.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah praktik penyusunan temuan audit menggunakan metode Condition, Criteria, Cause, and Effect. Peserta dipandu untuk merumuskan rekomendasi perbaikan sistem yang tidak hanya bersifat korektif, tetapi juga preventif. Hal ini bertujuan agar perusahaan mampu memperbaiki proses pengumpulan data ESG secara sistematis dan berkelanjutan di masa mendatang.

Dalam diskusi interaktif, para peserta menyoroti tantangan keterbatasan data pendukung di lapangan serta integrasi sistem teknologi informasi dalam pelaporan ESG. Menanggapi hal tersebut, narasumber menyarankan agar perusahaan mulai membangun ekosistem data yang terintegrasi dan memperkuat kolaborasi lintas departemen agar auditor dapat mengakses bukti-bukti audit yang objektif dan terdokumentasi dengan baik.

Sebagai penutup, IAI Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus mengawal transformasi profesi akuntan di era ekonomi hijau. Melalui pelatihan intensif ini, diharapkan para akuntan dan auditor di Jawa Timur mampu berperan sebagai agen perubahan yang memperkuat transparansi nasional. Dengan penguasaan audit ESG yang mumpuni, akuntan Indonesia siap berkontribusi dalam mewujudkan ekosistem bisnis yang tidak hanya profitabel, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.


Bagikan artikel ini :