
Malang – Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Timur Komisariat Malang Raya sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bertajuk "The Role of Accounting in Carbon Disclosure and Sustainability Performance" pada Rabu (13/05/2026). Dilaksanakan secara daring, acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta praktisi dari berbagai perguruan tinggi dan instansi di seluruh Indonesia.
Acara diawali dengan sambutan dari Kaprodi S2 dan S3 Akuntansi FEB UM, Dr. Makaryanawati, S.E., M.Si., Ak., CA., CSRS. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa tema sustainability atau keberlanjutan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan mendesak bagi dunia usaha. "Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi civitas akademika untuk memahami lebih dalam bagaimana peran strategis akuntansi dalam mendukung transparansi tata kelola lingkungan perusahaan," ujarnya. Sesi kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan acara secara resmi oleh Kepala Departemen Akuntansi FEB UM, Diana Tien Irafahmi, S.Pd., M.Ed., Ph.D.
Acara dilanjutkan ke sesi keynote speech, Ketua IAI Komisariat Malang Raya, Prof. Dr. Puji Handayati, S.E., M.M., Ak., CA., CMA. Beliau memaparkan urgensi penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia. "Transparansi emisi karbon kini menjadi fondasi utama dalam menjaga reputasi bisnis. Implementasi aturan pelaporan emisi karbon adalah langkah konkret bangsa kita dalam menjaga bumi dan mencapai target Net Zero Emission di tahun 2060," tegas Prof. Puji.
Memasuki sesi inti, kuliah tamu ini menghadirkan praktisi ahli, Efraim Leonardo Sitinjak, selaku Associate Director PT Deloitte Konsultan Indonesia. Dipandu oleh Dwi Narullia, S.E., M.SA., CSRS., selaku moderator, Efraim membedah secara komprehensif lanskap pelaporan keberlanjutan yang saat ini berlaku di tingkat global maupun nasional.
Dalam paparannya, Efraim menjelaskan bahwa isu keberlanjutan (ESG) kini memiliki korelasi yang sangat erat dengan laporan keuangan. Perusahaan tidak lagi bisa sekadar berjanji tanpa bukti nyata, untuk menghindari praktik greenwashing. Para pemangku kepentingan, terutama investor, kini menuntut transparansi dampak risiko iklim (seperti banjir rob, perubahan teknologi ke Electric Vehicle) terhadap aset dan keberlangsungan bisnis perusahaan.
"Di sinilah peran penting para akuntan. Pengukuran nilai karbon, pajak karbon (carbon tax), hingga penyusutan nilai aset akibat dampak perubahan iklim (impairment asset), semuanya bermuara pada pencatatan akuntansi. Profesi akuntan menjadi ujung tombak dalam memastikan data pelaporan ESG perusahaan disajikan secara kredibel dan selaras dengan standar seperti IFRS S1 & S2 maupun PSAK yang berlaku," jelas Efraim.
Lebih lanjut, Efraim juga memberikan panduan taktis bagi entitas menengah (UMKM) yang ingin memulai praktik pelaporan keberlanjutan. Ia merekomendasikan penggunaan standar Global Reporting Initiative (GRI) karena sifatnya yang modular dan lebih mudah dipahami oleh perusahaan dengan sumber daya terbatas.
Kuliah tamu ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif yang disambut antusias oleh para peserta. Melalui kolaborasi antara UM, IAI Wilayah Jawa Timur komisariat Malang Raya, dan Deloitte ini, diharapkan para akademisi dan calon akuntan masa depan memiliki wawasan yang mumpuni dalam mengelola pelaporan keuangan yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada kelestarian planet dan masyarakat.
