Sasar Mahasiswa Se-Indonesia, ASC Vol. 2 Bedah Evolusi Akuntan di Era AI hingga Jeratan Pinjol Ilegal

Kategori Berita : Seputar IAI Jatim tayang pada Jun 20, 2026

KEDIRI – Pengurus Anggota Muda Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Timur Komisariat Kediri sukses menyelenggarakan webinar nasional berskala besar melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu, 20 Juni 2026. Membawa tajuk "Financial Literacy in the Digital Age: Navigating Opportunities, Online Loan Risks, and Tax Obligations," ajang Accounting Study Club (ASC) Vol. 2 ini berhasil mempertemukan jajaran regulator, akademisi, serta praktisi profesional untuk membedah tuntas peta baru kompetensi finansial, risiko pinjol, judi online, hingga sistem perpajakan mutakhir di tanah air.

Ajang edukasi strategis yang menyasar mahasiswa program studi akuntansi se-Indonesia serta masyarakat umum ini dibuka secara resmi pasca lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars IAI Muda. Acara diawali oleh sambutan hangat dari Ketua IAI Muda Komisariat Kediri dan dilanjutkan oleh Ketua IAI Komisariat Kediri.

Evolusi Akuntan di Era AI: Menembus Batas 'Bookkeeping'

                                                                                                                                     

 

Sesi materi pertama dibuka secara komprehensif oleh narasumber utama dari IAI Wilayah Jawa Timur, Drs. Ec. Sugeng, MM., M.Ak., Ak., CA., CPA., ASEAN CPA., CBV., BKP., CPMA., CertDA., CRA., CRP. Beliau memaparkan dinamika "Transformasi Profesi Akuntan di Era Digital".

Sugeng menegaskan bahwa lompatan teknologi eksponensial seperti cloud computing, big data, dan artificial intelligence (AI) bertindak sebagai variabel game changer utama. Peran konvensional akuntan yang dahulu berfokus kaku pada aspek historis dan administratif (bookkeeping), kini dipaksa bermutasi total menuju ranah prediktif dan strategis.

"Dunia hari ini menuntut integrasi, data yang real-time, digitalisasi, serta keputusan yang sepenuhnya data-driven. Manajemen korporasi tidak lagi sekadar bertanya 'berapa laba kita?', melainkan beralih ke analisis mendalam seperti 'mengapa laba turun?' atau 'cabang mana yang harus diekspansi?'," tegas Sugeng.

Dalam era di mana software ERP mampu memproses jurnal secara otomatis dan menyajikan laporan keuangan secara real-time, kompetensi data entry atau rekonsiliasi dasar perlahan mulai hilang. Akuntan masa depan wajib memiliki skillset baru berupa kemampuan menganalisis pola data (Data Analyst), menjadi mitra manajemen (Business Partner), serta pemberi rekomendasi keputusan bisnis (Strategic Advisor) demi menjaga relevansi profesi.

'Triangle of Evils': Membendung Jeratan Pinjol, Judi Online, dan Investasi Bodong

Beranjak pada peta risiko keuangan digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri yang diwakili oleh tim ahlinya mengupas tuntas fenomena "Digital Lending Risks and Safe Investment Opportunities". Mengacu pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025, meski indeks literasi keuangan Indonesia meningkat menjadi 66,5% dan inklusi menyentuh 80,5%, masih terdapat gap sebesar 14,0% yang menjadi celah subur bagi eksistensi entitas keuangan ilegal.

Pihak OJK Kediri memperingatkan keras masyarakat atas bahaya laten yang disebut sebagai "Triangle of Evils" (Segitiga Setan), yakni keterikatan erat antara Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal, Judi Online, dan Investasi Ilegal. Fenomena kelam ini kerap menjadi akar maraknya kriminalitas, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga gangguan kamtibmas di daerah.

Berdasarkan data Satgas PASTI (Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) per Februari 2026, sebanyak 12.824 pinjol ilegal telah resmi ditutup. Lebih mengejutkan lagi, pusat penanganan penipuan transaksi keuangan, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), mencatat total kerugian dana masyarakat yang dilaporkan korban menembus angka fantastis Rp9 Triliun dari total 515.345 laporan sepanjang kurun waktu November 2024 hingga Maret 2026.

OJK memberikan panduan taktis bagi peserta agar selalu memegang prinsip 2L (Legal & Logis) sebelum bertransaksi, mengenali profil risiko pribadi, serta mewaspadai modus penipuan berkedok tugas "menyelesaikan misi" atau skema Ponzi. Jika sudah terlanjur terjerat teror debt collector ilegal, masyarakat diminta segera memblokir kontak, mengabaikan ancaman, dan melapor resmi ke pihak Kepolisian atau Satgas PASTI via portal resmi sipasti.ojk.go.id atau Kontak OJK 157.

Transformasi Sistem Coretax dan Kewajiban Pajak Generasi Muda

Sesi pamungkas webinar diisi oleh paparan edukatif dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kediri mengenai "Tax Obligations for Students: Coretax, Part-time Income, and Reporting Basics". Mengingat mahasiswa masa kini sudah mulai aktif mengumpulkan pendapatan melalui berbagai kanal ekonomi kreatif—seperti kerja paruh waktu (part-time), freelance, lini usaha mandiri, hingga penerimaan gift dari live streaming TikTok—pemahaman hak dan kewajiban perpajakan sejak dini menjadi krusial.

KPP Pratama Kediri mengintroduksi Coretax, Sistem Inti Administrasi Perpajakan (SIAP) terbaru milik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang hadir dengan tampilan jauh lebih user-friendly, fully responsive di semua gawai, serta mengintegrasikan alur Daftar, Hitung, Bayar, dan Lapor secara terpadu di dalam satu pintu.

Selain memberikan simulasi penggunaan portal Coretax dan e-Bupot, pihak otoritas pajak juga menyosialisasikan aturan baru terkait PPh Final UMKM tarif 0,5% permanen berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Aturan ini memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dan PT Perorangan dengan batasan omzet di bawah Rp4,8 Miliar per tahun.

Namun, DJP mengimbau para mahasiswa untuk senantiasa waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan instansi pajak terkait implementasi Coretax, serta menghindari penggunaan jasa calo pengisian SPT di media sosial yang berisiko memicu kebocoran data pribadi untuk disalahgunakan dalam pinjol ilegal maupun judi online.

Ruang Diskusi Interaktif dan Komitmen Berkelanjutan

Pasca pemaparan materi, antusiasme tinggi terlihat pada sesi diskusi interaktif dan tanya jawab (Money Talk Box) yang dipandu oleh moderator bersama para panelis. Webinar kemudian ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan sertifikat elektronik bagi para peserta.

Melalui penyelenggaraan ASC Vol. 2 ini, Pengurus Anggota Muda IAI Wilayah Jawa Timur Komisariat Kediri berharap dapat terus eksis sebagai wadah organisasi mahasiswa akuntansi terdepan di wilayah Karesidenan Kediri. Langkah nyata ini diharapkan mampu mencetak generasi muda akuntan Indonesia yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kritis, sadar pajak, cerdas secara finansial, serta membentengi diri dari jerat kejahatan ekonomi digital.


Bagikan artikel ini :